Beranda | Artikel
Seri Faidah Ushul Tsalatsah # 1
Kamis, 6 Desember 2018

Bismillah.

Risalah Tsalatsatul Ushul atau lebih terkenal dengan Ushul Tsalatsah (tiga landasan utama) karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memiliki banyak keutamaan dan faidah.

Diantara keutamaan risalah ini adalah ia dilandasi dengan dalil-dalil dari al-Qur’an maupun as-Sunnah, bahkan juga penulis membawakan ucapan atau keterangan ulama terdahulu yang berkaitan dengannya. Selain itu, risalah ini membahas perkara yang paling agung dalam agama yaitu aqidah. Di dalamnya dijelaskan mengenal keyakinan tentang Allah, tentang nabi-Nya, dan tentang Islam. Ketiga hal inilah yang kelak akan ditanyakan di alam kubur kepada setiap manusia.

Di bagian awal risalahnya beliau membuka dengan basmalah; yaitu ucapan bismillahirrahmanirrahim yang artinya, “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.” Hal ini merupakan perkara yang dianjurkan ketika seorang memulai tulisan atau surat, sebagaimana Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai surat dakwah dan surat perjanjian dengannya.

Di dalam basmalah terkandung isti’anah; yaitu memohon pertolongan kepada Allah dengan menyebut nama-nama-Nya. Selain itu juga terkandung tabarruk; mencari keberkahan dengan menyebut nama-nama-Nya sebelum memulai urusan.

Di dalam basmalah terkandung tiga asma’ul husna; yaitu Allah, ar-Rahman, dan ar-Rahim. Allah merupakan nama Rabb penguasa langit dan bumi, makna kata ‘Allah’ adalah yang berhak disembah oleh segenap makhluk-Nya. Adapun ar-Rahman dan ar-Rahim berasal dari kata rahmat/kasih sayang. Nama ar-Rahman mengandung sifat rahmat yang melekat pada diri Allah, sedangkan nama ar-Rahim mengandung sifat rahmat yang tercurah kepada makhluk-Nya.

Setelah itu, penulis mengatakan : “Ketahuilah -semoga Allah merahmatimu- bahwa sesungguhnya wajib atas kita untuk mempelajari empat perkara dan beramal dengannya:

Pertama; ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan dalil

Kedua; beramal dengannya.

Ketiga; mendakwahkan kepadanya.

Keempat; bersabar di atas gangguan di atasnya.”

Di dalam risalah ini penulis memadukan antara pengajaran ilmu dengan doa. Beliau mendoakan kebaikan bagi siapa saja yang membaca risalahnya; supaya Allah curahkan rahmat kepada mereka. Doa rahmat ini bermakna ‘semoga Allah mengampuni dosa-dosa anda yang telah berlalu dan menjaga anda di masa depan agar tidak terjerumus di dalam dosa’.

Beliau menyebutkan kewajiban ini secara global lalu merincinya. Hal ini merupakan metode pengajaran yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara; barangsiapa yang memilikinya maka dia akan bisa merasakan manisnya iman….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Diantara empat kewajiban ini beliau mendahulukan kewajiban untuk berilmu. Dan yang dimaksud di sini adalah ilmu agama. Kemudian beliau membagi ilmu agama ini menjadi tiga bagian pokok; mengenal Allah, mengenal nabi-Nya, dan mengenal agama Islam. Dalam mempelajari ketiga hal ini seorang muslim dituntut untuk mengikuti dalil, bukan hanya ikut-ikutan. Oleh sebab itu para ulama kita mengatakan bahwa hakikat ilmu adalah mengenali petunjuk dengan dalilnya.

Setelah berilmu maka kita dituntut untuk mengamalkannya. Karena amal adalah buah dari ilmu. Ilmu dipelajari untuk diamalkan, bukan hanya untuk memperluas wawasan. Kami mendengar dari guru kami Syaikh Walid hafizhahullah, “Orang yang diberi taufik adalah yang mencari ilmu untuk diamalkan.” (dalam acara Daurah Shahih Muslim di Kaliurang)

Dengan ilmu dan amal seorang muslim berusaha untuk memperbaiki dan menyempurnakan keadaan dirinya. Allah mengutus rasul-Nya dengan ilmu yang bermanfaat dan amal salih. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan rasa takut kepada Allah. Amal yang salih adalah yang ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih, dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (al-Kahfi : 110)

Kemudian, seorang muslim juga dituntut untuk memperbaiki kondisi lingkungan di sekitarnya dengan berdakwah dengan penuh kesabaran. Untuk berdakwah seorang muslim harus membekali dirinya dengan ilmu dan keikhlasan. ‘saling menasihati dalam kebenaran’ merupakan jalan untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan ‘saling menasihati dalam kesabaran’ adalah jalan untuk mengatasi fitnah syahwat, demikian faidah dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.

Sabar memiliki peranan yang sangat penting, karena sabar itu ada 3 macam :

– Sabar dalam menjalankan perintah Allah

– Sabar dalam menjauhi larangan Allah

– Sabar dalam menghadapi musibah

Sabar tidaklah benar kecuali berada dalam tiga keadaan :

– Sabarnya ikhlas karena Allah, bukan riya’

– Sabarnya di jalan Allah, bukan di atas bid’ah dan penyimpangan

– Sabarnya dengan memohon pertolongan Allah, bukan dengan ujub

Dengan demikian sabar juga membutuhkan ilmu. Oleh sebab itu sebagian ulama terdahulu menjelaskan bahwa hakikat sabar adalah tegar di atas al-Kitab dan as-Sunnah.

Kemudian, penulis membawakan dalil keempat perkara ini yaitu firman Allah dalam surat al-’Ashr, “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (al-’Ashr : 1-3). Beliau juga membawakan ucapan Imam Syafi’i rahimahullah, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk kecuali surat ini niscaya ia sudah cukup bagi mereka.”

Di dalam surat ini Allah bersumpah dengan waktu bahwa semua manusia merugi kecuali yang memiliki empat sifat; iman, amal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran’. Iman merupakan dalil untuk wajibnya ilmu, karena iman tidak bisa benar tanpa ilmu. Saling menasihati dalam kebenaran dalil untuk wajibnya dakwah. Dan saling menasihati dalam kesabaran merupakan dalil wajibnya sabar.

Perlu diingat, bahwa amal merupakan bagian dari iman. Karena iman dalam timbangan Ahlus Sunnah adalah ucapan dan amalan; ucapan hati dan lisan, dan disertai amalan hati dan amalan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang akibat kemaksiatan.

Surat al-’Ashr ini sudah cukup untuk memberikan dorongan bagi manusia agar menempuh jalan keselamatan dengan ilmu, amal, dakwah, dan kesabaran. Sabar itu dibutuhkan dalam segala kondisi :

– Sabar ketika mencari ilmu

– Sabar ketika mengamalkannya

– Sabar ketika mendakwahkannya

Kemudian penulis membawakan ucapan Imam Bukhari rahimahullah, “Bab. Ilmu sebelum ucapan dan amalan.” Dalilnya firman Allah (yang artinya), “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Allah dan mintalah ampunan atas dosa-dosamu…” (Muhammad : 19) maka di dalam ayat ini Allah mengawali perintah berilmu sebelum berkata dan berbuat.

Hal ini seolah memperkuat pendalilan beliau tentang wajibnya berilmu dengan membawakan dalilnya pada kalimat terdahulu dengan surat al-’Ashr, bahwa wajibnya berilmu dilandasi dengan wajibnya beriman; sementara iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan. Oleh sebab itu seorang muslim wajib mendasari ucapan dan perbuatannya dengan ilmu. Dengan kata lain iman harus dilandasi dengan ilmu. Islam juga harus dilandasi dengan ilmu. Beribadah juga harus berlandaskan ilmu. Karena ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah, berupa ucapan dan perbuatan; yang tersembunyi maupun yang tampak. Maka tidak mungkin mengenali mana yang dicintai dan diridhai oleh Allah kecuali dengan ilmu. Oleh sebab itu para ulama mengatakan, “Barangsiapa beribadah kepada Allah tanpa ilmu niscaya ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki.”

Ilmu yang paling utama adalah ilmu mengenal Allah; karena keutamaan suatu ilmu tergantung pada kemuliaan objek yang dipelajari. Dengan ilmu inilah seorang hamba akan bisa beribadah kepada Allah dengan benar. Kebutuhan manusia kepada ilmu ini di atas semua kebutuhan. Ilmu ini juga biasa disebut dengan ilmu tauhid atau aqidah. Karena begitu pentingnya ilmu ini maka para ulama juga menyebut ilmu aqidah sebagai fikih akbar/fikih yang terbesar. Inilah ilmu yang menjadi muatan pokok dakwah setiap rasul kepada umatnya. Yang mana mereka mengatakan, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian sesembahan -yang benar- selain-Nya.”

Sungguh malang apabila ada seorang hamba yang diciptakan oleh Allah di alam dunia ini sementara dia tidak mengenal sesembahannya. Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Orang-orang yang malang dari para penduduk dunia; mereka keluar darinya dalam keadaan tidak merasakan sesuatu yang paling baik di dalamnya.” Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Yahya, apakah itu yang paling baik di sana?” beliau menjawab, “Yaitu mengenal Allah ‘azza wa jalla.”

Dengan demikian, kehidupan yang baik adalah kehidupan yang dirasakan oleh ahli tauhid. Allah berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang melakukan amal salih dari kalangan lelaki atau perempuan, dalam keadaan dia beriman, benar-benar Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan pasti Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik daripada apa-apa yang mereka kerjakan.” (an-Nahl : 97)

Kehidupan yang baik adalah dengan mengikuti petunjuk Allah dalam setiap keadaan. Allah berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajarannya bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.” 

Demikian sedikit catatan faidah yang bisa kami kumpulkan dalam kesempatan yang singkat ini, semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca.


Artikel asli: https://www.al-mubarok.com/seri-faidah-ushul-tsalatsah-1-2/